81 Saham HSC Keluar dari Perhitungan IHSG, Apakah Jadi Sentimen Positif atau Negatif bagi Pasar?

2 November 2026 Ditulis oleh Hardy Tandoko
Featured

Key Takeaways

1. Perubahan ini mengubah komposisi indeks, bukan nilai pasar. Sebanyak 81 saham HSC dikeluarkan dari perhitungan kapitalisasi IHSG sejak 2 November 2026, tetapi tetap bisa diperdagangkan dan total kapitalisasi pasar bursa tidak berkurang.

2. Bobot saham big cap otomatis naik. Misalnya BBCA dari 8,41% menjadi 9,00%, BMRI dari 5,72% menjadi 7,09%, dan TLKM dari 3,79% menjadi 4,70%, sementara valuasi IHSG diperkirakan menjadi lebih menarik.

3. Dampaknya tidak otomatis positif atau negatif. IHSG menjadi lebih bergantung pada pergerakan saham big cap, sehingga tekanan jangka pendek tetap mungkin terjadi, seperti terlihat pada hari pertama pelaksanaan.

Mulai 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan kapitalisasi pasar IHSG. Saham-saham ini masih dapat diperdagangkan seperti biasa, tetapi pergerakannya tidak lagi memengaruhi level IHSG.

Jumlahnya tidak kecil. Kelompok saham HSC menyumbang sekitar 18% bobot IHSG dan sekitar 30% total kapitalisasi pasar di bursa. Karena bobot tersebut dibagi ulang ke saham-saham lain yang tetap menjadi konstituen, porsi saham big cap seperti BBCA, BBRI, dan BMRI dalam indeks otomatis meningkat. Seorang pelaku pasar menilai perubahan ini juga membuat valuasi IHSG menjadi lebih menarik.

Pertanyaannya, apakah perubahan ini menjadi sentimen positif atau justru negatif bagi pasar, khususnya IHSG? Jawaban singkatnya: ini perubahan komposisi, bukan perubahan nilai pasar. Indeks menjadi lebih representatif menurut BEI, tetapi juga lebih terkonsentrasi pada saham big cap, sehingga dampaknya perlu dilihat dari dua sisi.

Artikel ini menjelaskan apa itu saham HSC, bagaimana bobot saham big cap berubah, dampaknya terhadap valuasi dan pergerakan IHSG, serta apa artinya bagi investor.

Apa Itu Saham HSC dan Mengapa Dikeluarkan dari Perhitungan IHSG?

Apa yang Dimaksud dengan Saham HSC?

HSC adalah singkatan dari High Shareholding Concentration, yaitu kategori saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi. Sebanyak 81 emiten masuk kategori ini dengan bobot sekitar 18% dalam IHSG dan sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pengecualian saham HSC pada indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Menurut BEI, tujuannya agar IHSG lebih kredibel dan representatif sehingga investor dapat melacak pasar dengan lebih baik.

Apakah Kapitalisasi Pasar dan Perdagangan Saham HSC Terpengaruh?

Tidak. Saham HSC tetap dapat diperdagangkan. Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyatakan keluarnya saham HSC dari IHSG tidak menurunkan kapitalisasi pasar secara keseluruhan, karena total kapitalisasi pasar dihitung dari seluruh saham tercatat. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut hasil backtest BEI menunjukkan pengeluaran saham HSC tidak akan menyebabkan lonjakan indeks, dan bobotnya didistribusikan kepada konstituen lain.

Bagaimana Perubahan Ini Mengubah Bobot Saham Big Cap di IHSG?

Karena bobot 81 saham HSC dibagi ulang, saham big cap yang tetap menjadi konstituen mendapat porsi lebih besar dalam IHSG:

Saham Bobot IHSG Sekarang Bobot Tanpa HSC
BBCA 8,41% 9,00%
BBRI 7,88% 9,00%
BMRI 5,72% 7,09%
TLKM 3,79% 4,70%
ASII 3,39% 4,21%
AMMN 2,82% 3,50%
SMMA 2,57% 3,19%
BBNI 2,07% 2,56%
BRPT 1,54% 1,92%
CASA 1,49% 1,84%

Sepuluh saham dengan bobot terbesar setelah saham HSC dikeluarkan, dibandingkan dengan bobot sebelumnya.

Sebagian besar saham naik bobotnya sekitar 24% dari bobot semula (hitungan dari tabel di atas), sehingga saham perbankan besar, Telkom, dan Astra semakin dominan dalam menentukan arah IHSG.

Bagaimana Dampaknya terhadap Valuasi dan Pergerakan IHSG?

Apakah Valuasi IHSG Menjadi Lebih Menarik?

Menurut komentar pelaku pasar, valuasi IHSG menjadi lebih menarik setelah saham HSC dikeluarkan, karena indeks kini dihitung dari saham-saham di luar kelompok HSC. Perlu diingat bahwa ini berasal dari komentar pelaku pasar tanpa angka valuasi, bukan data resmi BEI, dan bukan jaminan IHSG akan menguat.

Bagaimana Reaksi IHSG pada Hari Pertama?

Pada hari pertama pelaksanaan (2 November 2026), IHSG sempat melemah 0,41% ke level 5.036,54 pada pukul 09.53 WIB (data intraday), dengan 505 saham turun dan 192 saham naik. Saham besar yang ikut melemah antara lain TLKM (-2,02%), BBNI (-0,60%), BMRI (-0,54%), ASII (-0,42%), dan BBRI (-0,34%). Karena bobot big cap kini lebih besar, pelemahan saham-saham ini lebih terasa pada IHSG.

Jadi, Positif atau Negatif bagi IHSG dan Investor?

Apa Sisi Positifnya?

  • Indeks lebih representatif. Menurut BEI, IHSG menjadi lebih kredibel dan representatif sehingga investor dapat melacak pasar dengan lebih baik.
  • Bobot saham big cap lebih besar. IHSG kini lebih mencerminkan emiten dengan kapitalisasi besar.
  • Valuasi lebih menarik. Menurut pelaku pasar, valuasi indeks menjadi lebih atraktif.

Apa yang Perlu Diwaspadai?

  • Konsentrasi pada big cap. IHSG makin bergantung pada beberapa saham, terutama perbankan, sehingga satu saham besar dapat menggerakkan indeks lebih jauh.
  • IHSG tidak lagi mencerminkan 81 saham HSC. Investor yang memegang saham HSC tidak bisa lagi menjadikan IHSG sebagai acuan pergerakannya, meski sahamnya masih diperdagangkan.
  • Volatilitas jangka pendek. Hari pertama menunjukkan indeks masih dapat melemah saat transisi, dan isu MSCI masih berjalan dengan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.

Dengan demikian, pengeluaran saham HSC lebih tepat dipandang sebagai perubahan cara indeks dihitung. Dampaknya terhadap investor bergantung pada saham dan reksa dana yang dimiliki, serta seberapa besar portofolio terpapar pada saham big cap.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan merupakan rangkuman perkembangan pasar. Bukan merupakan rekomendasi investasi. Investasi mengandung risiko. Pastikan setiap keputusan investasi disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi Anda.

Frequently Asked Question

1. Apa itu saham HSC?
HSC adalah singkatan dari High Shareholding Concentration, yaitu kategori saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi. Sebanyak 81 emiten masuk kategori ini dengan bobot sekitar 18% dalam IHSG dan sekitar 30% dari total kapitalisasi pasar.
2. Mengapa BEI mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG?
Menurut BEI, tujuannya agar IHSG lebih kredibel dan representatif sehingga investor dapat melacak pasar dengan lebih baik. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pengecualian saham HSC pada indeks IDX30, LQ45, dan IDX80.
3. Apakah saham HSC masih bisa diperdagangkan?
Ya. Saham HSC tetap dapat diperdagangkan seperti biasa, tetapi pergerakannya tidak lagi memengaruhi level IHSG. Keluarnya saham HSC dari IHSG juga tidak menurunkan kapitalisasi pasar secara keseluruhan, karena total kapitalisasi pasar dihitung dari seluruh saham tercatat.
4. Bagaimana perubahan ini memengaruhi bobot saham big cap di IHSG?
Bobot 81 saham HSC dibagi ulang ke konstituen lain, sehingga porsi saham big cap naik. Misalnya BBCA dari 8,41% menjadi 9,00%, BMRI dari 5,72% menjadi 7,09%, dan TLKM dari 3,79% menjadi 4,70%. Akibatnya, saham perbankan besar, Telkom, dan Astra semakin dominan dalam menentukan arah IHSG.
5. Apakah valuasi IHSG menjadi lebih menarik?
Menurut komentar pelaku pasar, ya. Namun pernyataan ini tanpa angka valuasi, bukan data resmi BEI, dan bukan jaminan IHSG akan menguat.
6. Bagaimana reaksi IHSG pada hari pertama pelaksanaan?
Pada 2 November 2026, IHSG sempat melemah 0,41% ke level 5.036,54 pada pukul 09.53 WIB (data intraday), dengan 505 saham turun dan 192 saham naik. Karena bobot big cap kini lebih besar, pelemahan saham seperti TLKM (-2,02%) dan BBNI (-0,60%) lebih terasa pada IHSG.
7. Apakah perubahan ini positif atau negatif bagi investor?
Tidak otomatis positif atau negatif, karena ini perubahan cara indeks dihitung, bukan perubahan nilai pasar. Sisi positifnya, indeks lebih representatif dan mencerminkan emiten berkapitalisasi besar. Yang perlu diwaspadai adalah konsentrasi pada big cap, IHSG yang tidak lagi mencerminkan saham HSC, dan volatilitas jangka pendek. Dampaknya bergantung pada saham dan reksa dana yang dimiliki serta seberapa besar portofolio terpapar pada saham big cap.

Penulis: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)

Mulai Persiapkan Merdeka Finansial Bersama SayaKaya

Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi, dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.

Download Aplikasi SayaKaya Sekarang!

https://sayakaya.go.link/download-disini

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Market Update 30 Oktober 2026

Yield SBN 10 Tahun Tembus 7,7% dan Rupiah Melemah, Apa Dampak The Fed Tahan Suku Bunga bagi Investor? (Weekly Newsletter 30 Oktober 2026)

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 25,2 bps menjadi 7,706% pada penutupan 28 Oktober 2026, level tertinggi sejak 2022. Pada saat yang sama, rupiah berada di kisaran Rp18.175 per dolar AS, melemah sekitar 9,0% sejak awal tahun dari kurs awal tahun sekitar Rp16.675.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Education 29 Oktober 2026

Sektor Apa Saja yang Menjadi Fokus Pemerintah Indonesia dan Bagaimana Peluangnya bagi Investor Reksa Dana?

Setiap tahun, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memberikan gambaran mengenai prioritas pembangunan Indonesia. Dari alokasi anggarannya, kita bisa melihat sektor yang mendapat perhatian pemerintah dan program yang berpotensi mendorong aktivitas ekonomi.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Event 29 Oktober 2026

Promo di Booth SayaKaya Untuk Pengguna Baru

Lagi jalan-jalan ke mall? Yuk, mampir ke booth SayaKaya di Central Park, Gandaria City, atau Pondok Indah Mall (PIM)!

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.