Kalau Inflasi Naik Terus, Berapa Harga Barang Pokok di 2045?
Key Takeaways
1. Kalau inflasi pangan terus naik rata-rata 3,96% per tahun, harga bahan pokok di 2045 bisa menjadi sekitar 2,1 kali lipat dari harga sekarang, misalnya beras medium dari Rp16.300/kg jadi sekitar Rp34.100/kg.
2. Uang yang disimpan tanpa bunga nilainya tetap sama secara nominal, tapi daya belinya tergerus inflasi. Rp1 juta hari ini hanya setara sekitar Rp478 ribu daya beli pada 2045.
3. Investasi bisa membantu menjaga daya beli kalau hasilnya lebih tinggi dari inflasi. Reksa dana bisa jadi pilihan karena dikelola Manajer Investasi dan jenisnya bisa disesuaikan dengan jangka waktu tujuan.
Kalau harga barang terus naik, berapa uang yang kita butuhkan untuk membeli kebutuhan yang sama di tahun 2045? Dalam 10 tahun terakhir, harga pangan di Indonesia naik rata-rata 3,96% (BPS) per tahun. Kalau kenaikan ini terus terjadi, harga bahan pokok pada 2045 bisa menjadi sekitar 2,1 kali lipat dari harga saat ini. Contohnya, beras medium yang saat ini sekitar Rp16.300 per kg bisa menjadi sekitar Rp34.100 per kg pada 2045.
Kenapa Harga Bahan Pokok Terus Naik?
Dalam 10 tahun terakhir, inflasi pangan rata-rata mencapai 3,96% per tahun. Angka ini lebih tinggi dari inflasi umum yang rata-rata 2,86%. Inflasi pangan juga lebih mudah berubah karena dipengaruhi cuaca, panen, dan pasokan. Beras, cabai, bawang, telur, dan daging termasuk di dalamnya.
Berapa Harga Bahan Pokok di 2045?
Jika harga pangan naik rata-rata 3,96% per tahun, berikut perkiraannya:
| Bahan Pokok | Harga 2026 | Perkiraan 2045 |
|---|---|---|
| Daging sapi | Rp151.300/kg | Rp316.400/kg |
| Daging ayam | Rp39.750/kg | Rp83.100/kg |
| Telur | Rp28.300/kg | Rp59.200/kg |
| Minyak goreng | Rp20.950/liter | Rp43.800/liter |
| Gula | Rp19.200/kg | Rp40.100/kg |
| Beras medium | Rp16.300/kg | Rp34.100/kg |
Sumber harga 2026: PIHPS Bank Indonesia, 7 Oktober 2026.
Perhitungannya sederhana: harga saat ini dikalikan dengan kenaikan inflasi selama 19 tahun. Kalau kita membeli keranjang belanja yang sama 10 kg beras, 2 liter minyak, 2 kg gula, 2 kg telur, 2 kg ayam, dan 1 kg daging sapi harganya saat ini sekitar Rp530.700. Pada 2045, keranjang yang sama bisa mencapai sekitar Rp1,11 juta.
Uang Rp1 Juta Hari Ini Akan Jadi Apa di 2045?
Inflasi tidak membuat jumlah uang kita berkurang. Yang berkurang adalah kemampuan uang tersebut untuk membeli barang. Rp1 juta yang disimpan tanpa bunga tetap menjadi Rp1 juta pada 2045. Namun, daya belinya untuk membeli kebutuhan pangan hanya setara sekitar Rp478 ribu hari ini. Jadi, menabung saja belum tentu cukup. Uang perlu tumbuh setidaknya secepat inflasi agar daya belinya tetap terjaga.
Bagaimana Investasi Membantu Melawan Inflasi?
Sederhananya, investasi bisa membantu menjaga daya beli jika hasil investasinya lebih tinggi dari inflasi. Sebagai ilustrasi, kita gunakan investasi awal Rp10 juta selama 19 tahun, dari 2026 sampai 2045:
- Disimpan tanpa bunga → Rp10 juta
- Deposito, asumsi hasil bersih 3% per tahun → sekitar Rp17,5 juta
- Sucorinvest Money Market Fund, dengan acuan kinerja 4,29% berdasarkan NAB per 7 Oktober 2026 → sekitar Rp22,2 juta
- Sucorinvest PHEI AAA Corporate Bond Fund, dengan acuan kinerja 5,41% berdasarkan NAB per 7 Oktober 2026 → sekitar Rp27,2 juta
Dengan inflasi pangan 3,96% per tahun, Rp10 juta hari ini perlu tumbuh menjadi sekitar Rp20,9 juta pada 2045 agar daya belinya tetap setara. Perlu diingat, angka 4,29% dan 5,41% merupakan kinerja historis berdasarkan NAB dan bukan jaminan hasil investasi di masa depan. Asumsi 3% juga hanya digunakan untuk ilustrasi.
Kenapa Reksa Dana Bisa Jadi Pilihan?
Reksa dana memungkinkan kamu berinvestasi tanpa harus memilih dan mengelola aset satu per satu. Dana investor dikelola oleh manajer investasi ke berbagai aset seperti deposito, obligasi, atau saham. Jenis reksa dana juga bisa disesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu:
| Jenis | Risiko | Cocok untuk |
|---|---|---|
| Pasar uang | Rendah | Tujuan <1 tahun |
| Pendapatan tetap | Rendah–sedang | 1–3 tahun |
| Campuran | Sedang | 3–5 tahun |
| Saham | Tinggi | >5 tahun |
Untuk tujuan jangka panjang seperti 2045, reksa dana pendapatan tetap, campuran, atau saham bisa dipertimbangkan sesuai profil risiko.
Mulai di SayaKaya
Harga kebutuhan sehari-hari mungkin terus naik, tapi kamu bisa mulai menyiapkan keuanganmu dari sekarang. Semakin cepat mulai, semakin panjang waktu yang kamu punya untuk mengembangkan uang dan menjaga daya belinya. Di SayaKaya, kamu bisa menghitung tujuan keuangan, melihat pilihan reksa dana, dan memilih investasi sesuai profil risiko serta kebutuhanmu. Nggak perlu menunggu punya banyak uang atau jadi ahli investasi dulu. Mulai dari jumlah yang sesuai kemampuanmu dan bangun kebiasaan investasi secara konsisten.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal/pemodal wajib membaca dan memahami prospektus dan informasi ringkas produk investasi (Fund Fact Sheet) sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan dan tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.
Penulis: Gilang Dwi Laksana
Editor: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)
Mulai Investasi Lebih Mudah Bersama SayaKaya
Temukan reksa dana sesuai tujuan investasi, dan mulai investasi hanya dalam beberapa langkah.
Lihat Blog Lainnya
Investasi Reksa Dana Dapat Dividen Sekaligus Asuransi Jiwa? Kenalan dengan TFIP
Trimegah Fixed Income Plan (TFIP) adalah reksa dana pendapatan tetap yang dikelola oleh PT Trimegah Asset Management sejak diluncurkan pada 23 Mei 2019. Reksa dana ini menempatkan sebagian besar portofolionya pada obligasi domestik, dengan tujuan memberikan tingkat pengembalian yang kompetitif dan stabil bagi pemegang unit penyertaan.
Baca Selengkapnya
Kamu Juga Bisa Upgrade Finansialmu: Bagaimana Strategi Mengelola Keuangan Sampai Mulai Bisa Investasi Reksa Dana?
Merasa gaji selalu habis sebelum akhir bulan, padahal ingin hidup lebih tenang secara finansial?
Baca Selengkapnya
Kenapa US Treasury Masih Melanjutkan Tren Kenaikan Yield Pasca The Fed Menaikkan Suku Bunga & Buyback Departemen Keuangan AS? (Weekly Newsletter 1 Oktober 2026)
Federal Reserve resmi menaikkan suku bunga pada September 2026. Namun setelah kenaikan tersebut, pelaku pasar justru mengurangi ekspektasi kenaikan lanjutan pada Oktober, menyusul data inflasi inti yang lebih rendah dari perkiraan meski satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun masih diantisipasi. Di tengah itu, tren kenaikan yield US Treasury masih berlangsung hingga saat ini, salah satunya dipicu oleh langkah Departemen Keuangan AS memperbesar rencana buyback obligasi tenor 10–20 tahun sejak 10 September 2026, yang mencerminkan pasar yang tetap waspada terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
Baca Selengkapnya
