Lipstick Effect: Mengapa Orang Tetap Belanja saat Ekonomi Sulit, dan Apa Pelajarannya bagi Keuangan?

29 Juni 2026 Ditulis oleh Gilang
Featured

Lipstick Effect: Mengapa Orang Tetap Belanja saat Ekonomi Sulit, dan Apa Pelajarannya bagi Keuangan?

Key Takeaways:

  1. Lipstick effect adalah fenomena psikologi dan ekonomi di mana konsumen cenderung tetap membeli barang mewah berukuran kecil dan terjangkau, seperti kosmetik, kopi kekinian, atau skincare, meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.
  2. Self-reward bukanlah hal yang salah. Namun, jika dilakukan secara rutin tanpa perencanaan keuangan yang tepat, pengeluaran kecil dapat terakumulasi menjadi jumlah yang signifikan dalam jangka panjang.
  3. Menyeimbangkan kebutuhan saat ini dengan investasi untuk masa depan dapat membantu menjaga kesehatan finansial. Sebagian dana yang biasanya digunakan untuk konsumsi dapat dialihkan ke instrumen investasi sesuai tujuan dan profil risiko.

Pernah mendengar pernyataan, "Ekonomi baik-baik saja kok, lihat saja Blok M ramai terus." Sekilas, ramainya pusat kuliner atau pusat perbelanjaan memang terlihat seperti tanda bahwa daya beli masyarakat masih kuat. Namun, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan keadaan ekonomi secara keseluruhan.

Di balik fenomena tersebut, terdapat konsep yang dikenal sebagai lipstick effect, yaitu kecenderungan masyarakat tetap mengeluarkan uang untuk pembelian kecil yang memberikan kepuasan emosional ketika kondisi ekonomi sedang kurang baik. Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi dan apa pelajarannya bagi kondisi keuangan kita?

Apa Itu Lipstick Effect?

Lipstick effect adalah fenomena psikologi dan ekonomi di mana konsumen cenderung tetap membeli barang mewah berukuran kecil dan terjangkau, seperti kosmetik, kopi kekinian, atau skincare, meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika kondisi ekonomi tidak menentu, masyarakat tidak selalu berhenti berbelanja. Sebaliknya, mereka mengubah pola konsumsi barang mewah menjadi barang mewah yang lebih aksesibel seperti kosmetik agar tetap memperoleh rasa nyaman tanpa mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Mengapa Lipstick Effect Terjadi?

Fenomena ini pernah dijelaskan oleh sosiolog dan ekonom asal Amerika Serikat, Juliet Schor, pada tahun 1998.

Menurutnya, ketika kondisi ekonomi memburuk atau menjelang resesi, banyak orang mencari cara untuk tetap merasa aman dan bahagia melalui pembelian barang-barang kecil yang masih dapat dijangkau.

Secara psikologis, pengeluaran kecil dianggap mampu memberikan kepuasan emosional di tengah ketidakpastian ekonomi. Itulah mengapa kedai kopi, gerai makanan, atau toko kosmetik masih dapat dipenuhi pelanggan meskipun kondisi ekonomi sedang melambat.

Apakah Self-Reward Itu Salah?

Sebenarnya self-reward tidak salah, karena memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras atau menghadapi tekanan sehari-hari merupakan hal yang wajar.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan kebiasaannya.

Pengeluaran sebesar Rp20.000 atau Rp30.000 mungkin terasa kecil jika dilakukan sekali. Akan tetapi, ketika dilakukan hampir setiap hari, total pengeluarannya dapat menjadi cukup besar tanpa disadari.

Berapa Besar Dampak Pengeluaran Kecil?

Misalkan kopi menjadi bentuk self-reward harian.

Jika setiap hari Anda menghabiskan sekitar Rp20.000, maka:

  • Dalam sehari: Rp20.000
  • Dalam sebulan: sekitar Rp600.000
  • Dalam setahun: sekitar Rp7.200.000

Nominal tersebut mungkin tidak terasa ketika dibelanjakan setiap hari. Namun setelah dihitung selama satu tahun, jumlahnya mencapai lebih dari tujuh juta rupiah.

Contoh ini menunjukkan bahwa kebiasaan kecil dapat memberikan dampak yang besar terhadap kondisi keuangan jika dilakukan secara konsisten.

Bagaimana Jika Sebagian Dana Diinvestasikan?

Sekarang bayangkan apabila dana sebesar Rp7.200.000 tersebut dialihkan ke investasi.

Sebagai ilustrasi, jika dana tersebut ditempatkan pada reksa dana pasar uang, misalnya Sucorinvest Money Market Fund yang mencatatkan return satu tahun sebesar 4,79% berdasarkan NAB per 4 Juni 2026, maka nilai investasinya berpotensi berkembang menjadi sekitar Rp7.544.657 dalam satu tahun.

Dengan kata lain, dana yang sebelumnya habis untuk konsumsi dapat mulai berkembang melalui proses investasi.

Inilah yang dikenal sebagai compounding, yaitu ketika hasil investasi mulai menghasilkan pertumbuhan tambahan sehingga aset dapat berkembang seiring waktu.

Perlu diingat, ilustrasi ini hanya menggunakan data historis untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan jaminan hasil investasi di masa mendatang.

Apa Pelajaran yang Bisa Diambil?

Lipstick effect mengajarkan bahwa keputusan keuangan sering kali dipengaruhi oleh emosi, bukan hanya kondisi ekonomi.

Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja melalui self-reward. Namun, akan lebih baik jika kebiasaan tersebut tetap diimbangi dengan membangun aset untuk masa depan.

Salah satu cara sederhana adalah menetapkan anggaran khusus untuk kebutuhan hiburan atau self-reward, sekaligus menyisihkan sebagian pendapatan untuk diinvestasikan secara rutin.

Dengan begitu, Anda tetap dapat menikmati hidup hari ini tanpa mengorbankan tujuan keuangan di masa depan.

Kesimpulan

Lipstick effect merupakan fenomena yang menjelaskan mengapa masyarakat tetap melakukan pembelian kecil sebagai bentuk self-reward ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Ramainya pusat perbelanjaan atau kedai kopi belum tentu menjadi indikator bahwa kondisi ekonomi sedang baik-baik saja, melainkan dapat mencerminkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat.

Self-reward merupakan hal yang wajar, tetapi penting untuk memahami bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan secara terus-menerus dapat terakumulasi menjadi jumlah yang besar. Dengan menyeimbangkan konsumsi dan investasi, Anda tidak hanya menikmati hasil kerja saat ini, tetapi juga mempersiapkan kondisi keuangan yang lebih baik di masa depan.


Disclaimer: Ilustrasi perhitungan hanya bertujuan sebagai contoh dan bukan merupakan jaminan hasil investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa yang akan datang. Investasi reksa dana mengandung risiko. Calon investor wajib membaca dan memahami prospektus serta fund fact sheet sebelum berinvestasi.


Editor: Hardy Tandoko (bersertifikasi WPPE, WMI, dan CSA)
Penulis: Gilang Dwi Laksana

Lihat Blog Lainnya

thumbnail
Market Update 26 Juni 2026

MSCI Review Juni 2026: Indonesia Tetap Bertahan sebagai Emerging Market, Tapi Mengapa Tetap Terancam ke Frontier Market? (Weekly Newsletter 26 Juni 2026)

Hasilnya akhirnya keluar. Pada Rabu (24/6), MSCI resmi mengumumkan hasil Annual Market Classification Review 2026 dan memastikan Indonesia tetap bertahan di kategori Emerging Market. Keputusan ini menjawab kekhawatiran yang membayangi pelaku pasar modal selama berbulan-bulan, sekaligus menghindarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dari risiko forced selling dana global dalam skala besar.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Kulik Reksa Dana 25 Juni 2026

Reksa Dana USD, Pilihan yang Ingin Berinvestasi dalam Dolar AS. Apa Manfaatnya bagi Investor Indonesia?

Reksa Dana USD adalah reksa dana yang menggunakan Dolar Amerika Serikat (USD) sebagai mata uang denominasi dan berinvestasi pada instrumen keuangan berdenominasi USD, seperti deposito, surat utang, maupun saham sesuai jenis reksa dananya. Reksa Dana USD bekerja dengan cara menghimpun dana investor dalam mata uang Dolar AS (USD) yang kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam instrumen keuangan berdenominasi USD, seperti deposito, surat utang, dan saham. Nilai investasi akan berubah mengikuti kinerja aset yang menjadi portofolio reksa dana, sehingga investor berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan Nilai Aktiva Bersih (NAB) dalam USD. Bagi investor Indonesia, hasil investasi juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD, sehingga ketika dolar menguat terhadap rupiah, nilai investasi dalam rupiah dapat meningkat lebih besar, dan sebaliknya dapat berkurang jika dolar melemah.

Baca Selengkapnya
thumbnail
Kulik Reksa Dana 24 Juni 2026

Bagaimana Danamas Stabil Mampu Menjaga Kestabilan Dana di Tengah Gejolak Geopolitik dan Tren Kenaikan Suku Bunga?

Danamas Stabil adalah reksa dana pendapatan tetap dari PT Sinarmas Asset Management yang dirancang untuk menjaga kestabilan nilai investasi, bukan untuk mengejar imbal hasil tinggi yang penuh gejolak. Beroperasi sejak 28 Februari 2005, produk ini menempatkan mayoritas dana investor pada efek bersifat utang (obligasi) dengan tujuan memberikan pendapatan yang stabil dan optimal dalam jangka menengah hingga panjang pada tingkat risiko yang relatif rendah. Sesuai namanya, "Stabil" mencerminkan karakter produk yang mengutamakan ketenangan nilai investasi di tengah ketidakpastian pasar.

Baca Selengkapnya

Aplikasi SayaKaya:
Mudah, Cepat, dan Terkurasi!

Semua orang kini bisa berinvestasi Reksa Dana dengan mudah hanya lewat satu aplikasi saja. Download sekarang!

HFM - Unverified - Shadow HFM - Verified - Shadow HFM - Unverified HFM - Verified stars
Sayakaya Logo Copyright ©2024 Landing Page
Download Aplikasi
PT SAYAKAYA LAHIR BATIN
location Sahid Sudirman Centre lt 12
Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 13-15, Jakarta 10220
phone +62212527989
email hi@sayakaya.id
SayaKaya adalah aplikasi investasi reksa dana yang berlaku sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan produk reksa dana dan manajer investasi pilihan yang telah terkurasi. Dikelola dan dikembangkan oleh PT Sayakaya Lahir Batin yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dengan nomor registrasi KEP-17/PM.21/2021.

Investasi reksa dana mengandung risiko. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Calon pemodal/pemodal wajib mempelajari prospektus sebelum berinvestasi reksa dana. Dalam melakukan transaksi jual dan beli reksa dana, calon pemodal/pemodal diharapkan memperhatikan profil risiko, kondisi keuangan serta tujuan investasi dari masing-masing calon pemodal/pemodal.